Jumat, 18 Oktober 2013

Jika Dia Mencintaimu

Jika dia mencintaimu, dia tidak akan menunda-nunda mengatakan perasaannya kepadamu.
Jika dia mencintaimu, dia tidak akan mengabaikanmu, dia akan meluangkan waktunya untuk menghubungimu.
Jika dia mencintaimu, dia tidak akan membiarkanmu menunggunya terlalu lama.

Jika dia menunda-nunda mengatakan perasaannya, itu bisa jadi karena bukan hanya kamu yang ada dihatinya.
Jika dia tidak memperhatikanmu, itu bisa jadi karena bukan hanya kamu yang dia perhatikan.
Jika dia membiarkanmu menunggunya terlalu lama, itu bisa jadi karena dia memang tidak pernah yakin akan perasaannya itu.

Senin, 14 Oktober 2013

Wise Word About Life

I'm sick of people being shallow, and picking on other people for the things they can't change about themselves.
"She's too tall."
It's not like she can control her height.
"He has a big nose."
What is he supposed to do about it?
Get plastic surgery?
"She has a weird looking face."
Is that really her fault?
"She's really flat chested."
That's genetic. She didn't choose to be.
"He has crooked teeth."
Not everyone can afford braces.
"Her hair is too frizzy."
She didn't choose her hair, and not everyone has the time to flat iron their hair every morning.
"His eyes are creepy looking."
He didn't choose the shape of his eyes.

You know what? People can't choose their family and how much money they grow up with, their facial structure, their body type or many other things. Don't fucking pick on them for that. If you're going to dislike someone, dislike them for their personality and actions, not how they look or where they come from.

Selasa, 08 Oktober 2013

Cinta

  • X: Jatuh?
  • Aku: Ya
  • X: Apa yang jatuh?
  • Aku: Hati ini *tunjuk ke dada*
  • X: Sejak kapan?
  • Aku: Ini sudah jatuh dari dulu, sudah jatuh sejak beberapa tahun yang lalu
  • X: Setelah jatuh diapakan?
  • Aku: Aku biarkan dia tetap jatuh
  • X: Kau biarkan dia diam disana?
  • Aku: Ku biarkan dia tetap diam disana
  • X: Apa kau gila membiarkan cintamu tetap diam?
  • Aku: Mau apa lagi, karena tidak ada yang lebih indah dari cinta dalam diam
  • X: Jadi kau membiarkannya terjebak dalam diam?
  • Aku: Aku membiarkannya diam agar dia menjadi indah, tentu saja indah pada waktunya
  • X: Dan kau menikmatinya?
  • Aku: Aku menikmati jatuhku. Aku menikmati diamku saat melihatnya, tanpa tahu apakah hatinya juga terjatuh untukku, tanpa tahu apakah dia akan menadahi hati ini saat terjatuh untuknya
  • X: Jadi kau memutuskan untuk menjadikannya sebuah misteri?
  • Aku: Ya, tapi ini Misteri İlahi, karna hanya Allah yang tahu. Tidak ada yang tahu akan hal ini selain diriNya. Kalaupun berjodoh, takkan ada seorang pun atau apapun di dunia ini yang bisa membuat kami tidak bersama, begitupun sebaliknya
  • X: Tapi setelah jatuh, menurutmu siapa yang harus bertanggung jawab?
  • Aku: Hmmm, aku tak tahu, apa menurutmu dia akan bertanggung jawab? Bahkan gravitasi pun takkan mau bertanggung jawab atas jatuhnya hati ini. Tidak ada yang salah akan hal ini, dan tidak ada yang perlu bertanggung jawab
  • X: Jadi sekarang apa yang akan kau lakukan?
  • Aku: Membiarkannya tetap diam atau mungkin membiarkannya terjatuh kembali, dan bisa saja terjatuh karena orang yang sama ataupun berbeda. Haha, aku tak tahu...

Senin, 07 Oktober 2013

Dear, Calon Ayah...

Dear, Calon Ayah...

One day kalian akan menikah, lalu istri kalian akan hamil..
Lalu sang istri mengandung anak kalian 9 bulan lamanya..
Susah makan, susah duduk, susah tidur, sering muntah, pusing, mual, sakit gigi, dan pegal..

Hingga tiba saatnya ia akan melahirkan..

Kalian harus berdiri disampingnya, tatap wajah istrimu dalam-dalam..
Dan kalian akan melihat seseorang yang memperjuangkan antara hidup dan matinya..
Seluruh tubuhnya sakit, seumur hidupnya hari itulah dimana ia mengeluarkan tenaga terbesarnya..
Demi seorang anak yang kalian nantikan..

Hingga suatu hari, saat dimana kalian tergoda oleh wanita lain..

Kalian harus selalu ingat..

"Apa benar jika aku berselingkuh? Sedang aku sudah memiliki wanita yang waktu itu hampir mati demi anakku?"

Minggu, 06 Oktober 2013

Mungkin (Tanpa Tanda Tanya)

Sesuatu yang kausebut persahabatan antara dua insan manusia; laki-laki dan perempuan. Mungkin, tidak akan pernah berjalan mulus menjadi persahabatan sejati.
Mungkin, ada benih ketidakhalalan yang kini tengah bersemai dalam hati. Entah satu di antara hati keduanya, atau bahkan di antara keduanya. Biar kuberi tahu, rasanya membingungkan dan menyesakkan.
Ada perasaan nyaman ketika bercerita, pun ketika mendengarkan ceritanya. Semua terjadi begitu saja. Dan mungkin, sedikit terkontaminasi bisikan syaitan, yang semakin menyuburkan gejolak ini. Bahaya. Sungguh, ini sangat berbahaya.
Memang ini kebodohanku atau ketidakberdayaanku?
Aku tidak berbalik arah. Aku masih berpijak, menghadapimu. Bersejajar denganmu, entah untuk apa. Mungkin, sekadar untuk mendengarkan. Mungkin, sekadar menciptakan tawa yang pecah berdua; bersamamu.
Jika semua ini adalah kesalahan fatal dalam persahabatan, maka ini adalah kesalahan terindah yang pernah kulakukan. Ah, lagakku bicara seperti orang yang tak kenal Tuhan. Mungkin, aku lupa bahwa Dia dapat membaca pikiran dan hati hamba-Nya…
Mungkin, kita sedang menjejakkan kaki dalam lumpur persahabatan. Tanpa sadar, bahwa kita telah terjebak di dalamnya. Hendak mundur tak mampu, tetapi maju pun tak mungkin. Lalu, di sinilah kita berada. Bermain dengan cerita dan kata. Terluka dan tertawa.
Aku, kau, dan kita.
Mungkin.

Can I be that one person?

The one that's contantly on your mind.
That one person you would always reply faat to.
The one your friends hear about every day of their live.
The one you check up on every now and then just to see how their day is going.
The one that makes your day, the one you'd do anything for.
The one you smile non stop about. The one you can be your completw self around.
The person you love more than anything.

Rabu, 02 Oktober 2013

Aku Cemburu

Aku cemburu pada cermin kamarmu, yang selalu berperan sebagai yang pertama kali melihat senyumanmu

Aku cemburu pada gulingmu, yang selalu berperan sebagai siapa yang ingin kau dekap.

Aku cemburu pada telinga benda-benda mati disekitarmu, yang selalu mampu mendengar alasan pada siapa air matamu jatuh.

Aku cemburu pada gelas kopimu, yang selalu dapat mencium bibir indahmu.

Aku cemburu pada dinding-dinding kamarmu, yang selalu menjadi saksi siapa yang kau rindukan disetiap ujung lelap.

Aku cemburu pada setiap lagu-lagu yang selalu kau dengarkan dengan hati, menemani malam-malamu hingga terbawa mimpi.

Ketika Aku Tanpamu

Aku duduk di atas rumput taman yang hijau, sesekali kuseka keringat yang membasahi keningku karena teriknya matahari di siang bolong seperti ini. Hanya angin sepoi-sepoi yang sedikit berhembus dan merontokkan dedaunan kering dari pohon mahoni tempat aku berteduh. Kulirik jam mungil berwarna pink pemberian Raka saat ultahku yang ke-15 tahun lalu di pergelangan tanganku, hampir pukul setengah 1. Padahal dia berjanji akan datang pukul 12, tidak biasanya dia ngaret.

Aku sedang menunggu Raka, sahabatku dari kecil yang selalu ada di saat suka dan duka. Tinggi, putih, agak gemuk tapi dia lucu. Tingkahnya nggemesin seperti anak kecil, celotehannya tak pernah ada habisnya, dia tipe orang ramai and tak bisa diam. Sejak SD, kami sudah akrab. Kemanapun pergi selalu bersama. Berangkat sekolah, mengerjakan PR, jalan-jalan, dan seperti sekarang ini. Janjian di taman pukul 12 siang untuk mencari kupu-kupu indah yang Raka yakini hanya muncul di kala hari minggu yang terik seperti ini. Aneh memang kedengarannya tapi aku nurut saja apa kata Raka. Apalagi bermain bersama Raka dan menghabiskan waktu bersamanya sangatlah menyenangkan. Aku bisa melupakan hal-hal yang membuatku sedih, I can refresh my mind with Raka.

Raka is my “best friend forever”, itu yang sering dia katakan padaku. Sosoknya yang lugu dan tidak banyak tingkah membuatku sangat nyaman berada disisinya. Mungkin karena itu juga sampai saat ini belum terfikir olehku untuk mencari seorang ‘pacar’ karena dengan bersama Raka, aku merasa sudah cukup. Dia yang bisa menghiburku disaat aku sedih, memberikan lelucon-lelucon konyol dan tebakan aneh, mengajakku makan di warung tenda yang ujungnya bayar sendiri-sendiri. Atau kalau kami sedang benar-benar BT, kami membawa sebuah kamera digital dan perlengkapan piknik lainnya untuk sekedar makan bersama di bawah pohon mahoni yang rindang di pinggiran taman dekat rumah kami. Tak ketinggalan aksi narsis-narsisan kami hingga menjelang sore. Alhasil, banyak sekali koleksi foto-foto kami sekarang.

Sudah 29 menit lebih 55 detik namun belum ada tanda- tanda kedatangan Raka. Selama ini, kami mempunyai komitmen bahwa toleransi terlambat janjian adalah 30 menit pas. Jika salah satu diantara kami tidak muncul juga maka kami boleh meninggalkan tempat.

“ Kurang 5 detik, “ batinku dalam hati sambil menengok kanan kiri siapa tahu tiba-tiba Raka datang, toleransi untuk Raka sudah habis untuk hari ini. Sempat terbesit dalam benakku untuk menunggu 5menit lagi tapi tidak!! Bukannya ini sudah menjadi perjanjian jauh-jauh hari? Jadi inilah konsekuensi yang harus Raka terima karena telah melanggar janji. Aku mulai melangkahkan kaki meninggalkan pohon mahoni. Panas matahari seolah siap membakar kulitku, begitu terik.
Namun, saat ku pandang langit aku melihat seekor kupu-kupu terbang di atas kepalaku. Indah sekali, sayapnya berwarna merah dengan garis hitam. Inilah kupu-kupu yang kami cari. Sejenak aku menatap kupu-kupu manis ini dengan seksama. Sebenarnya aku sudah sering melihatnya namun kali ini, dikala aku menyaksikannya tanpa Raka entah kenapa kupu-kupu tersebut nampak lebih indah dari biasanya. Ia lama terbang di sekitarku hingga aku seolah tidak merasakan panasnya matahari yang membuat keningku basah kuyup. Sampai kemudian, ia terbang menjauh dan menghilang... mungkin kupu- kupu itu tidak mau mengecewakanku meskipun aku kecewa karena ketidakdatangan Raka.

Aku menuju jalan raya berjalan kaki, melihat kendaraan berlalu lalang membuatku pusing apalagi keringat sudah membanjir. Aku baru mengambil langkah untuk menyeberang ketika tiba-tiba sebuah truk meluncur kencang dari arah kiri setelah menyalip sebuah sedan merah hati padahal dalam kondisi jalan yang begitu ramai seperti ini ada larangan mendahului untuk kendaraan bermuatan berat seperti truk kuning dengan 8 roda besar yang kokoh itu. Entahlah tapi tak ada yang bisa mencegah kejadian ini. Aku yang baru 3 langkah maju benar-benar tak memiliki sedikitpun kemampuan untuk menghindar. Boro-boro untuk berlari, mundur saja aku tak bisa. Dan truk itu semakin mendekatiku, rasanya aku sedang menyaksikan malaikat maut menjemputku, yang aku pikirkan hanyalah bagaimana aku menghadap Tuhan jika aku sungguh akan dijemput? Aku juga belum berpamitan pada ibuku. Dalam hitungan detik, truk menabrak tubuhku. Dan saat itu, aku tak dapat merasakan apa-apa. Hanya saja seolah-olah aku terbang, rasanya damai sekali. Aku sempat mendengar orang-orang berteriak mungkin mencemaskan keadaanku, sebelum akhirnya aku tak sadarkan diri.

Aku tidur lama sekali dan aku bermimpi bertemu dengan Raka, ternyata Raka sengaja bersembunyi di belakang pohon dan membiarkanku menunggu. Namun, 1detik sebelum time out dia sudah berdiri di belakangku. Hmm....dia memang sangat menyebalkan. Dan kami menemukan kupu-kupu seperti yang aku lihat ketika aku sendirian di taman. Namun herannya, kupu-kupu itu sama indahnya.

Aku membuka mata sedikit demi sedikit, rasanya badanku sakit semua. Tapi yang paling terasa adalah kakiku. Sosok pertama yang aku tangkap adalah ibuku, kemudian ayah, kakak, dan saudara-saudaraku. Tak ketinggalan pula di sisi kiriku ada Raka disana, dia menggenggam tanganku. Raut wajahnya yang kusut berubah menjadi ceria ketika tau bahwa aku telah sadar. Aku belum bisa berkata, masih berat dan lemas sekali. Hanya senyum simpul yang dapat aku berikan untuk semua yang ada disini. Untuk menyampaikan bahwa aku baik-baik saja.

“ Na, alhamdulillah kamu udah sadar. Kamu tidur lama banget Na, “ kata Raka, walaupun ia berusaha menutupi tapi aku melihat kelopak matanya basah sedikit, Raka menangis.

“ Iya, sudah 1 hari 1 malam kamu tidur, tadi malam Raka menunggu kamu. Kami sangat khawatir, sayang, “ tambah ibu sambil membelai rambutku.

Tenggorokanku kering sehingga sulit untuk memulai berkata, tanganku memberi isyarat bahwa aku ingin minum. Ibu mengambilkan segelas air putih di meja, aku meminumnya. Alhamdulillah terasa lebih lega dan lebih ringan untuk bicara.

“ Jam berapa? “ kalimat pertama yang aku ajukan.

“ Jam 2 siang, sayang, “ jawab ibu. Aku tidur lama sekali, padahal seingatku kemarin aku memejamkan mata secara paksa sekitar pukul 12.35 sampai mataku rasanya membesar.

“ Ibu, aku kenapa? “ tanyaku lagi, aku masih belum ngeh dengan keberadaan Raka.

“ Kamu jatuh di jalan, kecelakaan. Om Dicky yang pertama menemukanmu dan membawa kamu kesini. Bagaimana perasaanmu, sayang? “ kata-kata ibu yang lembut membuatku senang. Tadinya aku pikir tak kan bisa melihatnya lagi jika saat itu nyawaku tak tertolong. Syukur alhamdulillah aku masih bisa membuka mata, terimakasih Ya Tuhan!

“ Aku lapar bu, “ celetukku tiba-tiba dan membuat geli semuanya. Aku memang sangat lapar, 24jam lebih aku tidur kan gak bisa makan dan sekarang perutku kosong sekali, untung saja maaghku gak kambuh.

“ Iya, ibu suapin makan ya, “ ibu mengambil seporsi makanan dan mulai menyuapkannya padaku. Sebenarnya makanan ini terasa aneh di lidahku, sama sekali bukan makanan kesukaanku. Gak manis, gak asin, cuma gurih sedikit. Padahal aku penyuka masakan asin sejati. Tapi ya sudahlah, namanya juga orang lapar apapun oke. Tak disangka nafsu makanku gak berubah, makanan habis aku lahap.

“ Enak makanannya ya Ren? “ tanya Reno, kakakku.

“ Gak berasa, “ jawabku singkat.

“ Kok habis? Laper apa doyan? “ ledek kakakku.

“ Orang lagi laper, ya udah makan aja. “

Raka masih terdiam di sisiku. Ups! Aku tak sadar tidak mempedulikan dia. Tapi kenapa dia jadi pendiam seperti ini? Dia sedikit sekali bicara, mana Raka yang suka bercelotah itu? Aku merasa kehilangan sesuatu dengan kebisuan Raka.

“ Raka, “ panggilku sembari menghadapnya.

“ Iya Na, “ ia kembali menggenggam tanganku, terlihat rasa bersalah yang begitu dalam tergambar di matanya.

“ Kamu kenapa? Kamu khawatir ma aku? Aku gak papa kok Raka, kamu tenang aja. “ aku berusaha menghiburnya.

“ Sayang, ibu keluar dulu ya. Kamu ngobrol dulu sama Raka, “ pamit ibu.

“ Iya, bu, “ jawabku.

“ Na, aku minta maaf gak datang, aku salah buat kamu nunggu. Dan karena aku gak jagain kamu, kamu harus berada disini , “ Raka menundukkan kepala di hadapanku, dia menangis.

“ Raka, “ aku mengelus rambutnya “ Kamu jangan merasa bersalah kaya gitu, iya sih aku kecewa kamu gak dateng tapi ya udahlah gak papa, aku gak nyalahin kamu sama sekali. Semua ini emang udah seharusnya begini, “ Raka masih tidak bergeming, ku angkat wajahnya yang tertunduk. “ Kamu kok nangis? Kamu bilang cowok gak boleh nangis, gak gentle banget sih. Kamu gak malu apa kalo ada yang lihat? Gak malu juga sama aku? “

Tiba-tiba dia memelukku erat sekali, aku tak tahu harus berbuat apa maka aku membalas pelukannya.

“ Maafin aku Na, “ katanya lagi.

“ Iya, udah aku maafin. Udah kamu jangan minta maaf lagi

“ Tapi gara-gara aku kamu harus kehilangan hampir separuh hidup kamu,

“ aku tak mengerti apa yang Raka katakan. Aku merasa baik-baik saja, hanya memang sedikit lemah tapi tak ada hal ganjil kok terus kenapa Raka bilang seperti itu?

“ Kamu ngomong apa sih Raka? “ aku jadi ingin tau maksud perkataannya. Sebelum Raka menjawab, ku coba gerakkan satu demi satu bagian tubuhku, tangan, kepala, dan......kaki. Ada sedikit yang berbeda ketika aku berusaha mengerakkan kakiku, berat.

“ Aduh....”, keluhku sebentar.

“ Kenapa Na? “ tanya Raka.

“ Kakiku sakit, Ka. Kok yang kiri gak bisa ditekuk ya? “ aku semakin penasaran apa yang terjadi. Tanpa pikir panjang aku buka selimut yang sedari tadi sempurna menutupi kakiku. Saking sigapnya aku bahkan Raka tak bisa melarangku untuk membukanya.

Dan...,

Kaki kiriku cuma separuh, apa ini mimpi? Aku terbengong menyaksikannya, masih dengan ketidakberdayaannya Raka memeluk pundakku. Apa ini yang Raka bilang bahwa aku hampir kehilangan separuh hidupku? Jadi aku cacat sekarang? Kakiku di amputasi. Ya Tuhan cobaan apa ini??? Kini aku harus melanjutkan hidupku hanya dengan satu kaki. Air mataku mulai menetes, sedih, hancur dan terpukul melihat kenyataan yang harus aku jalani. Cepat sekali Engkau melakukan ini ya Tuhan, kemarin aku masih bisa berjalan dengan kokoh di atas kedua kakiku untuk menunggu Raka tapi kini? Tapi sudahlah, tiada guna menyesali apa yang sudah terjadi, aku hanya bisa meyakinkan diriku bahwa ini jalan terbaik untukku saat ini menurutNya. Karena Dia sangat sayang padaku, aku yakin ada hikmah besar yang bisa aku ambil. Aku segera menetralisir perasaanku agar Raka dan semua keluargaku tidak mengkhawatirkan hal ini, mungkin mereka takut aku akan syok ketika mengetahuinya. Sementara Raka masih memelukku sambil berlinang air mata, bahkan dia menangis lebih banyak dariku.

“ Na, maafin aku “

“ Iya, “ aku menyeka mataku yang basah dan memandangnya lagi.

“ Na, kaki kamu.....” aku tersenyum padanya, mencoba menahan gejolak hati yang tengah menerpaku saat ini. Dan aku kembali tersedu, terasa lebih dalam dan sakit. Aku pun menunduk lagi.

“ Na….., “ Raka mengelus rambutku lembut serta berusaha menenangkanku. Aku sama sekali tak mampu berkata apa-apa lagi. “ Maafin aku, Na. Tapi kamu tenang aja karena sekarang udah banyak kaki palsu dan kelak kamu bisa memakainya. Kamu masih tetap bisa sekolah dan aku akan bantu kamu. “ tambah Raka.

“ Ka, kamu masih mau kan ngajak aku jalan ke taman lagi? “ tanyaku pada Raka.

“ Iya, tentu. Aku akan ajak kamu kemanapun kamu mau, mulai sekarang aku janji gak akan pernah ninggalin kamu. Aku bakal ngejagain kamu Na tapi kamu jangan sedih ya, kamu pasti kuat. Kamu adalah cewek yang tegar. Ohya, aku juga akan nemenin tiap kamu terapi. Pokoknya selagi bisa, aku selalu di deket kamu untuk bantu kamu, Na. Kita juga bisa ke taman lagi minggu siang untuk melihat kupu-kupu, “ hibur Raka yang berusaha meyakinkanku bahwa semua tidak akan berubah walaupun aku sudah cacat.

“ Ohya Raka, kemarin aku lihat kupu-kupu itu, indah sekali bahkan lebih indah dari yang biasa kita lihat. Sayang aku lihatnya gak sama kamu, ” sesalku.

“ Besok-besok pasti kita bisa kesana lagi, aku janji. “ dan Raka mencium keningku.



-Bersambung-

Kamu...

Ada ribuan kata, jutaan kalimat, dan miliaran rasa yang tak dapat ku ungkap. Di hadapanmu semua kataku hilang, kalimatku menjadi mati, dan rasaku entahlah seakan meluap tanpa ku tahu cara mengendalikannya.

Kamu, kamu adalah kataku, duniaku, mimpiku, dan semangatku. Saat ini aku memang pergi, pergi dari kehidupan ku di sana. Aku pergi untuk mimpiku, aku pergi untuk duniaku, aku pergi untuk sejuta cerita yang kelak mampu ku ceritakan pada semua orang, pada semua orang yang aku cintai.

Kamu, kamu adalah senyum. Senyum di kala aku tak mampu lagi tersenyum, senyum di kala aku lelah, senyum di kala aku resah, dan senyum di kala aku bahagia.

Kamu, kamu adalah ceritaku. Cerita yang aku tak tahu bagaimana ini bermula dan bagaimana ini berakhir. Aku selalu punya cerita tentangmu, selalu tersenyum karenamu, menangis karenamu, dan tertawa karenamu.

Kamu, kamu adalah semangat. Semangatku menggapai mimpi, semangatku mencapai semua yang aku inginkan, dan semangatku untuk menjadi yang terbaik.

Kamu, kamu adalah rindu. Rindu yang aku tak tahu bagimana munculnya, bagaimana hilangnya, dan bagaimana aku mengungkapkannya. Hariku sepi, duniaku senyap, senyumku sirna kala semua rasa rindu itu datang. Aku merindukanmu, merindukan setiap pertemuan kita, merindukan setiap tatapan, merindukan setiap senyuman, aku merindukan semua tentangmu.

Kamu, kamu adalah melodi yang indah. Melodi yang selalu ingin ku dengar, melodi yang selalu ku tunggu, melodi yang selalu ku harapkan ketika aku mulai tak mampu lagi mendengar.

Kamu, kamu adalah rasa. Rasa yang ku syukuri dari Tuhan, rasa yang mampu membuatku memahami apa itu cinta, apa itu rindu, dan apa itu kesetiaan.

Kamu, kamu adalah untaian kata yang aku tak mampu menuliskannya, menerjemahkannya bahkan untuk mengatakannya. Aku hanya mampu terdiam ketika aku melihatmu, melihat tatapanmu, melihat kamu tersenyum, dan melihat kamu bicara.

Kamu, kamu adalah arah. Arah dimana aku harus berjalan, arah dimana aku harus berputar, dan arah dimana aku harus berhenti.

Kamu, kamu adalah waktu. Waktu dimana aku harus berdiri, waktu dimana aku harus merasa lelah, dan waktu dimana aku harus menyerah.

Kamu, kamu adalah embun. Embun yang selalu mampu membuatku merasa sejuk.

Kamu, kamu adalah cahaya. Cahaya di saat jalanku mulai gelap, cahaya di saat duniaku semakin kelam, dan cahaya saat aku mulai redup.

Dan kamu, kamu adalah kamu. Kamu yang begitu apa adanya, kamu yang selalu ada dalam setiap sujud malamku, dan kamu yang selalu ada dalam setiap pintaku.

Aku merindukanmu

Long Distance

Tak ada lagi yang bisa ku sampaikan padamu selain kata Rindu..
Tak ada lagi bayang yang ingin kulihat selain bayangmu..
Tak ada lagi pelupuk mata yang meneduhkan selain Matamu..

Setiap orang yang melihatku selalu berkata. " Ketika kau jauh darinya, Kau memliki kesempatan berselingkuh yang sangat besar. Dan kau tahu hal yang paling baiknya apa? Kau memiliki ruang yang sangat luas tanpanya. "
Aku hanya tersenyum sejenak. Menyusun rentetan kata yang berbaris dalam benakku. " Kau tahu, mungkin aku memiliki ruang yang sangat luas tapi percuma jika aku merasa kehilangan. Dan iya aku memiliki kesempatan berselingkuh yang besar, namun semua wanita di mataku sama saja. Kau perlu ingat ini, Setiap kali ku melihat wanita lain, hal yang kupikirkan adalah Dia bukanlah orang yang kurindukan." jawabku tegas.

Mungkin banyak dari mereka yang berselingkuh, tapi sayangnya aku tidak termasuk dalam perkumpulan gagal itu. Kau tahu tak ada yang lebih berat selain rasa rindu. Mereka ibarat Hutang dan Kehausan, mereka menuntut tuk dituntaskan dan dibayarkan.


Rindu yang semakin hari semakin menjalar disetiap denyut nadiku. Rindu yang selalu membuatku mengingatnya.
Malam yang tak pernah berhenti tuk membuatku merindu.
Kau tahu apa hal terbaiknya?
Jarang ini menjadi ruang tuk menguji cinta kita.
Apakah kita pantas tuk bersama ataukah lebih pantas tuk berpisah.

Aku Ingat

Aku ingat betapa genggamanmu mampu membuatku yakin kita mampu.

Aku ingat betapa sepasang matamu mampu menenggelamkan aku hanya dengan sekali pejam.

Aku ingat betapa teduhnya tatapan matamu selalu berhasil membuatku nyaman bersandar didekatmu.

Aku ingat betapa senyummu selalu berhasil memudarkan segala kecemasanku.

Aku ingat betapa dekapmu mampu redakan badai dalam kepalaku.

Aku ingat betapa lenganmu selalu berhasil menyelamatkanku dari kesedihan yang tak jemu bertamu.
Aku ingat betapa tatapanmu mampu meluluhkan hatiku yang sekeras batu.

Aku ingat betapa amarahku tak pernah mampu menang dari permintaan maafmu.

Menyendiri Dalam Diam

Aku cuma bisa diam..
Diam menahan rasa..
Menimbun luka..
Dan terus sembunyikan perih..
Aku..
Aku membisu..
Pada siapa kuharus mengadu?
Sedang aku disini terabaikan..
Pada siapa kuharus mengeluh?
Sedang aku disini terasingkan..
Menangis?
Ya, Aku menangis..
Karena apa?
Karena hanya air mata lah yang setia..
Setiap tuk temaniku hadapi dunia

Sometimes

Sometimes..,
Yang selalu ngabarin, bakal kalah sama yang selalu nemenin..
Yang selalu ngangenin, bakal kalah sama yang sering nemuin..
Yang cuma ngucapin "semoga cepet sembuh", bakal kalah sama yang ngurusin sampe dia sembuh..
Yang pertama, akan tergantikan oleh yang selalu ada..

Love Note (Part 3)

Beberapa pekan ini aku mulai merasa kehilangan kamu. jika penyebabnya adalah bosan, bagaimana jika kita mulai saja semuanya dari awal. Kita pura-pura belum saling kenal, menghindari keramaian. Aku bersedia jika kita berpisah selama beberapa hari. Kamu dengan kesibukanmu, tapi ijinkan aku menyibukkan diri dengan tetap mendoakanmu. Agar kita saling introspeksi diri. Mengalah dengan apa yang kamu sebut dengan bosan. Kemudian kita janjian untuk kencan pertama, aku akan bertanya perihal dirimu, kamu menjawabnya dengan panjang lebar, dan aku akan mendengarkannya dengan sangat senang. Ketahuilah, sayang... Aku tak pernah berhenti meminta dan memohon pada tuhan agar kamu tak hanya menjatuhkan hatimu, tapi kamu menitipkannya juga padaku.

Love Note (Part 2)

Good Night and Good Morning messages will already make her smile thinking that you actually give afuck about her. Checking up on her everyday will erase those doubts in her mind. Even little random text telling her how much you love her will give her the assurance that your feelings for her are real. Just show her that you care. If you like something is bothering her, then ask her. Try to cheer he up when she's feeling down. If she has a problem, the ask her and listen. never be ashamed of opening up yourself to her. It's only a sign that you're real man. Hug her. Just hug her every time.

Love Note

Memperjuangkan hubungan sendirian memang tidak menyenangkan. Sebab sejatinya hubungan yang baik adalah dialog, bukan monolog. Tapi percayalah, tidak ada yang sia-sia dari setiap apa yang sudah dilakukan. Meski perih, coba berjuanglah tanpa pamrih. Berjuanglah karena kamu memang tulus ingin berjuang untuk apa atau siapa yang kamu yakini. Jika bahagiamu masih dengan siapa yang kamu pilih, pertahankan. Jika mulai lelah, lepaskan. Lakukan apa yang menurutmu baik untuk dilakukan. jangan sampai berbuah penyesalan. Diabaikan atau tidak, setidaknya kamu sudah mencoba mempertahankan, sebelum akhirnya benar-benar saling mengikhlaskan, kemudian melupakan. Butuh waktu memang. Percaya saja, Tuhan telah menyiapkan satu orang yang pantas untuk kamu hujani kebahagiaan tanpa harus mengalami perpisahan yang direncanakan.

Jangan Mampir Dulu

Mendadak rindu mengusik ketenangan hidup
Dia tampaknya sedang ingin mengunjungiku
Setelah sekian lama tak pernah mampir
Kini dia hadir tanpa dipinta
Sukarela mendatangiku
Ah rindu, kenapa kini kau mampir di saat aku butuh ketenangan?
Kau tahu, rindu, kau buyarkan semua fokusku
Karena kau jua lah air mata ini sibuk berlari kencang di pipi
Ah rindu, kau tak pernah mengerti keadaanku
Berhentilah bertamu ke hidupku
Jangan mampir dulu tuk sementara waktu