Aku duduk di atas rumput taman yang hijau, sesekali kuseka keringat yang membasahi keningku karena teriknya matahari di siang bolong seperti ini. Hanya angin sepoi-sepoi yang sedikit berhembus dan merontokkan dedaunan kering dari pohon mahoni tempat aku berteduh. Kulirik jam mungil berwarna pink pemberian Raka saat ultahku yang ke-15 tahun lalu di pergelangan tanganku, hampir pukul setengah 1. Padahal dia berjanji akan datang pukul 12, tidak biasanya dia ngaret.
Aku sedang menunggu Raka, sahabatku dari kecil yang selalu ada di saat suka dan duka. Tinggi, putih, agak gemuk tapi dia lucu. Tingkahnya nggemesin seperti anak kecil, celotehannya tak pernah ada habisnya, dia tipe orang ramai and tak bisa diam. Sejak SD, kami sudah akrab. Kemanapun pergi selalu bersama. Berangkat sekolah, mengerjakan PR, jalan-jalan, dan seperti sekarang ini. Janjian di taman pukul 12 siang untuk mencari kupu-kupu indah yang Raka yakini hanya muncul di kala hari minggu yang terik seperti ini. Aneh memang kedengarannya tapi aku nurut saja apa kata Raka. Apalagi bermain bersama Raka dan menghabiskan waktu bersamanya sangatlah menyenangkan. Aku bisa melupakan hal-hal yang membuatku sedih, I can refresh my mind with Raka.
Raka is my “best friend forever”, itu yang sering dia katakan padaku. Sosoknya yang lugu dan tidak banyak tingkah membuatku sangat nyaman berada disisinya. Mungkin karena itu juga sampai saat ini belum terfikir olehku untuk mencari seorang ‘pacar’ karena dengan bersama Raka, aku merasa sudah cukup. Dia yang bisa menghiburku disaat aku sedih, memberikan lelucon-lelucon konyol dan tebakan aneh, mengajakku makan di warung tenda yang ujungnya bayar sendiri-sendiri. Atau kalau kami sedang benar-benar BT, kami membawa sebuah kamera digital dan perlengkapan piknik lainnya untuk sekedar makan bersama di bawah pohon mahoni yang rindang di pinggiran taman dekat rumah kami. Tak ketinggalan aksi narsis-narsisan kami hingga menjelang sore. Alhasil, banyak sekali koleksi foto-foto kami sekarang.
Sudah 29 menit lebih 55 detik namun belum ada tanda- tanda kedatangan Raka. Selama ini, kami mempunyai komitmen bahwa toleransi terlambat janjian adalah 30 menit pas. Jika salah satu diantara kami tidak muncul juga maka kami boleh meninggalkan tempat.
“ Kurang 5 detik, “ batinku dalam hati sambil menengok kanan kiri siapa tahu tiba-tiba Raka datang, toleransi untuk Raka sudah habis untuk hari ini. Sempat terbesit dalam benakku untuk menunggu 5menit lagi tapi tidak!! Bukannya ini sudah menjadi perjanjian jauh-jauh hari? Jadi inilah konsekuensi yang harus Raka terima karena telah melanggar janji. Aku mulai melangkahkan kaki meninggalkan pohon mahoni. Panas matahari seolah siap membakar kulitku, begitu terik.
Namun, saat ku pandang langit aku melihat seekor kupu-kupu terbang di atas kepalaku. Indah sekali, sayapnya berwarna merah dengan garis hitam. Inilah kupu-kupu yang kami cari. Sejenak aku menatap kupu-kupu manis ini dengan seksama. Sebenarnya aku sudah sering melihatnya namun kali ini, dikala aku menyaksikannya tanpa Raka entah kenapa kupu-kupu tersebut nampak lebih indah dari biasanya. Ia lama terbang di sekitarku hingga aku seolah tidak merasakan panasnya matahari yang membuat keningku basah kuyup. Sampai kemudian, ia terbang menjauh dan menghilang... mungkin kupu- kupu itu tidak mau mengecewakanku meskipun aku kecewa karena ketidakdatangan Raka.
Aku menuju jalan raya berjalan kaki, melihat kendaraan berlalu lalang membuatku pusing apalagi keringat sudah membanjir. Aku baru mengambil langkah untuk menyeberang ketika tiba-tiba sebuah truk meluncur kencang dari arah kiri setelah menyalip sebuah sedan merah hati padahal dalam kondisi jalan yang begitu ramai seperti ini ada larangan mendahului untuk kendaraan bermuatan berat seperti truk kuning dengan 8 roda besar yang kokoh itu. Entahlah tapi tak ada yang bisa mencegah kejadian ini. Aku yang baru 3 langkah maju benar-benar tak memiliki sedikitpun kemampuan untuk menghindar. Boro-boro untuk berlari, mundur saja aku tak bisa. Dan truk itu semakin mendekatiku, rasanya aku sedang menyaksikan malaikat maut menjemputku, yang aku pikirkan hanyalah bagaimana aku menghadap Tuhan jika aku sungguh akan dijemput? Aku juga belum berpamitan pada ibuku. Dalam hitungan detik, truk menabrak tubuhku. Dan saat itu, aku tak dapat merasakan apa-apa. Hanya saja seolah-olah aku terbang, rasanya damai sekali. Aku sempat mendengar orang-orang berteriak mungkin mencemaskan keadaanku, sebelum akhirnya aku tak sadarkan diri.
Aku tidur lama sekali dan aku bermimpi bertemu dengan Raka, ternyata Raka sengaja bersembunyi di belakang pohon dan membiarkanku menunggu. Namun, 1detik sebelum time out dia sudah berdiri di belakangku. Hmm....dia memang sangat menyebalkan. Dan kami menemukan kupu-kupu seperti yang aku lihat ketika aku sendirian di taman. Namun herannya, kupu-kupu itu sama indahnya.
Aku membuka mata sedikit demi sedikit, rasanya badanku sakit semua. Tapi yang paling terasa adalah kakiku. Sosok pertama yang aku tangkap adalah ibuku, kemudian ayah, kakak, dan saudara-saudaraku. Tak ketinggalan pula di sisi kiriku ada Raka disana, dia menggenggam tanganku. Raut wajahnya yang kusut berubah menjadi ceria ketika tau bahwa aku telah sadar. Aku belum bisa berkata, masih berat dan lemas sekali. Hanya senyum simpul yang dapat aku berikan untuk semua yang ada disini. Untuk menyampaikan bahwa aku baik-baik saja.
“ Na, alhamdulillah kamu udah sadar. Kamu tidur lama banget Na, “ kata Raka, walaupun ia berusaha menutupi tapi aku melihat kelopak matanya basah sedikit, Raka menangis.
“ Iya, sudah 1 hari 1 malam kamu tidur, tadi malam Raka menunggu kamu. Kami sangat khawatir, sayang, “ tambah ibu sambil membelai rambutku.
Tenggorokanku kering sehingga sulit untuk memulai berkata, tanganku memberi isyarat bahwa aku ingin minum. Ibu mengambilkan segelas air putih di meja, aku meminumnya. Alhamdulillah terasa lebih lega dan lebih ringan untuk bicara.
“ Jam berapa? “ kalimat pertama yang aku ajukan.
“ Jam 2 siang, sayang, “ jawab ibu. Aku tidur lama sekali, padahal seingatku kemarin aku memejamkan mata secara paksa sekitar pukul 12.35 sampai mataku rasanya membesar.
“ Ibu, aku kenapa? “ tanyaku lagi, aku masih belum ngeh dengan keberadaan Raka.
“ Kamu jatuh di jalan, kecelakaan. Om Dicky yang pertama menemukanmu dan membawa kamu kesini. Bagaimana perasaanmu, sayang? “ kata-kata ibu yang lembut membuatku senang. Tadinya aku pikir tak kan bisa melihatnya lagi jika saat itu nyawaku tak tertolong. Syukur alhamdulillah aku masih bisa membuka mata, terimakasih Ya Tuhan!
“ Aku lapar bu, “ celetukku tiba-tiba dan membuat geli semuanya. Aku memang sangat lapar, 24jam lebih aku tidur kan gak bisa makan dan sekarang perutku kosong sekali, untung saja maaghku gak kambuh.
“ Iya, ibu suapin makan ya, “ ibu mengambil seporsi makanan dan mulai menyuapkannya padaku. Sebenarnya makanan ini terasa aneh di lidahku, sama sekali bukan makanan kesukaanku. Gak manis, gak asin, cuma gurih sedikit. Padahal aku penyuka masakan asin sejati. Tapi ya sudahlah, namanya juga orang lapar apapun oke. Tak disangka nafsu makanku gak berubah, makanan habis aku lahap.
“ Enak makanannya ya Ren? “ tanya Reno, kakakku.
“ Gak berasa, “ jawabku singkat.
“ Kok habis? Laper apa doyan? “ ledek kakakku.
“ Orang lagi laper, ya udah makan aja. “
Raka masih terdiam di sisiku. Ups! Aku tak sadar tidak mempedulikan dia. Tapi kenapa dia jadi pendiam seperti ini? Dia sedikit sekali bicara, mana Raka yang suka bercelotah itu? Aku merasa kehilangan sesuatu dengan kebisuan Raka.
“ Raka, “ panggilku sembari menghadapnya.
“ Iya Na, “ ia kembali menggenggam tanganku, terlihat rasa bersalah yang begitu dalam tergambar di matanya.
“ Kamu kenapa? Kamu khawatir ma aku? Aku gak papa kok Raka, kamu tenang aja. “ aku berusaha menghiburnya.
“ Sayang, ibu keluar dulu ya. Kamu ngobrol dulu sama Raka, “ pamit ibu.
“ Iya, bu, “ jawabku.
“ Na, aku minta maaf gak datang, aku salah buat kamu nunggu. Dan karena aku gak jagain kamu, kamu harus berada disini , “ Raka menundukkan kepala di hadapanku, dia menangis.
“ Raka, “ aku mengelus rambutnya “ Kamu jangan merasa bersalah kaya gitu, iya sih aku kecewa kamu gak dateng tapi ya udahlah gak papa, aku gak nyalahin kamu sama sekali. Semua ini emang udah seharusnya begini, “ Raka masih tidak bergeming, ku angkat wajahnya yang tertunduk. “ Kamu kok nangis? Kamu bilang cowok gak boleh nangis, gak gentle banget sih. Kamu gak malu apa kalo ada yang lihat? Gak malu juga sama aku? “
Tiba-tiba dia memelukku erat sekali, aku tak tahu harus berbuat apa maka aku membalas pelukannya.
“ Maafin aku Na, “ katanya lagi.
“ Iya, udah aku maafin. Udah kamu jangan minta maaf lagi
“ Tapi gara-gara aku kamu harus kehilangan hampir separuh hidup kamu,
“ aku tak mengerti apa yang Raka katakan. Aku merasa baik-baik saja, hanya memang sedikit lemah tapi tak ada hal ganjil kok terus kenapa Raka bilang seperti itu?
“ Kamu ngomong apa sih Raka? “ aku jadi ingin tau maksud perkataannya. Sebelum Raka menjawab, ku coba gerakkan satu demi satu bagian tubuhku, tangan, kepala, dan......kaki. Ada sedikit yang berbeda ketika aku berusaha mengerakkan kakiku, berat.
“ Aduh....”, keluhku sebentar.
“ Kenapa Na? “ tanya Raka.
“ Kakiku sakit, Ka. Kok yang kiri gak bisa ditekuk ya? “ aku semakin penasaran apa yang terjadi. Tanpa pikir panjang aku buka selimut yang sedari tadi sempurna menutupi kakiku. Saking sigapnya aku bahkan Raka tak bisa melarangku untuk membukanya.
Dan...,
Kaki kiriku cuma separuh, apa ini mimpi? Aku terbengong menyaksikannya, masih dengan ketidakberdayaannya Raka memeluk pundakku. Apa ini yang Raka bilang bahwa aku hampir kehilangan separuh hidupku? Jadi aku cacat sekarang? Kakiku di amputasi. Ya Tuhan cobaan apa ini??? Kini aku harus melanjutkan hidupku hanya dengan satu kaki. Air mataku mulai menetes, sedih, hancur dan terpukul melihat kenyataan yang harus aku jalani. Cepat sekali Engkau melakukan ini ya Tuhan, kemarin aku masih bisa berjalan dengan kokoh di atas kedua kakiku untuk menunggu Raka tapi kini? Tapi sudahlah, tiada guna menyesali apa yang sudah terjadi, aku hanya bisa meyakinkan diriku bahwa ini jalan terbaik untukku saat ini menurutNya. Karena Dia sangat sayang padaku, aku yakin ada hikmah besar yang bisa aku ambil. Aku segera menetralisir perasaanku agar Raka dan semua keluargaku tidak mengkhawatirkan hal ini, mungkin mereka takut aku akan syok ketika mengetahuinya. Sementara Raka masih memelukku sambil berlinang air mata, bahkan dia menangis lebih banyak dariku.
“ Na, maafin aku “
“ Iya, “ aku menyeka mataku yang basah dan memandangnya lagi.
“ Na, kaki kamu.....” aku tersenyum padanya, mencoba menahan gejolak hati yang tengah menerpaku saat ini. Dan aku kembali tersedu, terasa lebih dalam dan sakit. Aku pun menunduk lagi.
“ Na….., “ Raka mengelus rambutku lembut serta berusaha menenangkanku. Aku sama sekali tak mampu berkata apa-apa lagi. “ Maafin aku, Na. Tapi kamu tenang aja karena sekarang udah banyak kaki palsu dan kelak kamu bisa memakainya. Kamu masih tetap bisa sekolah dan aku akan bantu kamu. “ tambah Raka.
“ Ka, kamu masih mau kan ngajak aku jalan ke taman lagi? “ tanyaku pada Raka.
“ Iya, tentu. Aku akan ajak kamu kemanapun kamu mau, mulai sekarang aku janji gak akan pernah ninggalin kamu. Aku bakal ngejagain kamu Na tapi kamu jangan sedih ya, kamu pasti kuat. Kamu adalah cewek yang tegar. Ohya, aku juga akan nemenin tiap kamu terapi. Pokoknya selagi bisa, aku selalu di deket kamu untuk bantu kamu, Na. Kita juga bisa ke taman lagi minggu siang untuk melihat kupu-kupu, “ hibur Raka yang berusaha meyakinkanku bahwa semua tidak akan berubah walaupun aku sudah cacat.
“ Ohya Raka, kemarin aku lihat kupu-kupu itu, indah sekali bahkan lebih indah dari yang biasa kita lihat. Sayang aku lihatnya gak sama kamu, ” sesalku.
“ Besok-besok pasti kita bisa kesana lagi, aku janji. “ dan Raka mencium keningku.
-Bersambung-
Rabu, 02 Oktober 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar